Postingan

Toxic Positivity

"Don't be so negative!"  "Coba liat sisi positifnya aja" "Lo pasti bisa ngelewatin ini" "Udahlah, ga usah sedih" Familiar sama kata-kata ini? Pernah dapet? Atau pernah ngomong gini ke orang-orang di sekeliling kita? Well, saya rasa sih kita semua pernah ya ngungkapin ini ke orang-orang di sekitar kita. Mungkin tanpa sengaja, lagi ga tau mau ngomong apa dan terciptalah kata-kata ini, yang paling mudah untuk diucapkan ketika ga tau mau ngomong apa. Loh, tapi bukannya kata-kata itu bisa menghibur orang ya?  Hmm..belum tentu. Saya pakai contoh saya ya. My ex, orangnya sangat positif sekali, and that's good. Saking positif-nya, dia punya prinsip gini, "Marah itu cuma boleh 5 menit". Sampai suatu kali, saya curhat ke dia masalah orangtua murid yang untuk kesekian kalinya ga ngabarin kalau anaknya ga bisa les, padahal saya sudah dijalan atau bahkan sudah sampai di rumahnya. Jarak antara tempat saya dan tempat dia itu antara Harmoni da...

My Healing Journey

Dalam 3 minggu terakhir, seperti biasa saya melakukan project yang sudah saya lakukan rutin dari 2 tahun lalu, yaitu detox social media. Kalau 2 tahun lalu saya melakukan untuk menghindari ngeliat timeline dan story mantan..uupss..hahaha.. (yaaa monmaap, baru putus saat itu, jadi butuh off, hahaha) Tapi mulai tahun kemarin, saya melakukan untuk diri saya sendiri. Tahun lalu saya berhasil 1 bulan ga buka IG dan Twitter sama sekali, tapi tahun ini hanya berhasil selama 3 minggu..hahaha.. Ada yang unik dalam project pribadi saya tahun ini walaupun hanya 3 minggu. Sejak covid yang membuat saya ga bisa kemana-mana dan bebas berpergian kemana pun untuk mencari inspirasi, saya banyak belajar lewat kuliah online gratis di Coursera, dengerin podcast, youtube, baca buku, nonton film, dengerin IG Live..buseett, banyak amat yaa...hahaha...tapiiiii, saya sadar saya lemah di praktek.. Kuliah online dari Yale di Coursera ini sebenarnya setiap minggunya memberikan saya PR untuk dilakukan, tapi...

Everyone is Fighting Their Own Battles

"There is a condition to full recovery. It's that you not must try to forcefully erase your wounds. You must embrace, accept, and love them. Each of our wounds become a map for each of our own lives." from korean drama "Fix You". Kata-kata diatas adalah kalimat penutup dari film tersebut. Hehee...seperti biasa saya suka belajar dari film, apalagi yang berhubungan sama psikologi. Kali ini film tentang dunia psikiater beserta kasus-kasusnya. Saya ga mau spoiler, jadi silakan nonton sendiri yaa..hehee.. Selesai nonton film itu, saya kembali melihat diri saya sebagai seorang konselor dan klien-klien yang selama ini pernah saya tangani. Saya rasa kasus pemeran utama perempuan di film ini mirip dengan kasus yang pernah saya tangani. Kasus Borderline.. Gangguan kepribadian dengan kondisi mood yang tidak stabil, perasaan takut diabaikan sehingga melakukan perbuatan yang ekstrem, perilaku impulsive seperti mencoba bunuh diri, melukai diri sendiri, berhubungan inti...

Say Hello to Your Inner Child

Gambar
"Your greatest enemy is yourself" Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Familiar dengan kata-kata ini? Banyak quote yang berbicara masalah ini, bahkan ada juga yang mengatakan dengan sebutan "monster". Dalam diri kita masing-masing ada 1 monster dan hanya kita sendiri yang mampu menaklukkannya. Musuh.. Monster.. 2 kata ini jauh sekali dari kesan mudah disentuh dan ramah ya :) Kayaknya berat banget ngadepin yang namanya musuh atau monster ini dan tampak sulit sekali karena bayangan kita akan monster adalah pribadi yang besar dan menakutkan.. Tapi akhir-akhir ini saya mendapati kata yang mungkin lebih baik dan tidak menakutkan dari 2 kata itu. Inner Child   Sweet ya gambarnya? Hahaha..tapi ini bukan lagi mau ngomongin masalah cinta-cintaan ya. Kalau mau ngomongin cinta-cintaan ada sendiri di judul blog "what is love" yang udah sampai part 5. Bentar lagi nyusul drama korea bisa sampai episode 16..hahaha...ga deeh.. Anyway...balik...

What is Love? (Part 5)

Entah akan nulis ini sampai part berapa ya..hahaha.. Hidup terus bergerak dan belajar itu adalah tugas kita sampai akhir hidup bukan? :) So, mari kita balik ke topik ini. Tiba-tiba kepikiran sama cerita klien minggu lalu. Dia cerita tentang kedekatannya selama 1 tahun dengan seorang cowok dan sekarang dia sangat takut sekali ketika cowok ini tiba-tiba berubah menjauh. Se-khawatir itu sampai dia ga bisa mengontrol dirinya sendiri untuk stlaking media sosial cowok ini beserta komen2 yang didapat bahkan dia suka minta diramal pake kartu tarot. Okeh, udah mulai aneh? Tunggu dulu...belum selesai ceritanya :) Si cowok ini juga dari cerita klien saya, sangat sulit pisah dengan orang-orang yang ga baik dan cenderung kasihan ketika melihat perempuan model klien saya. Yang gampang sekali breakdown, rapuh, insecure dan panik berkepanjangan. Selama kurang lebih 1 jam saya konseling dia, saya hanya mendengarkan dan sesekali bertanya apa yang dia takutkan sebenarnya. Klien saya bukan tipe ana...

Dear 2020, i really hate you...but,...

Dari kemarin pengen banget sebenernya mulai nulis lagi, tapi selalu ditunda-tunda karena belum dapet mood-nya. Tapi sekarang, setelah baca berita ga mengenakkan, it makes me so sad, dan muncullah hasrat buat nulis. Dear 2020, i really really hate you...really..! Dibuka dengan tahun baru banjir besar sampai 3x. Seumur-umur ga pernah ngerasain ngerobok banjir...tapi pembuka tahun ini luar biasa. Satu kali bener-bener menembus banjir sepaha demi keluar dari kepungan yang ga tau kapan surutnya. Rasanya? Pengen marah tapi ga bisa marah juga. Sempat mengumpat kerja dari Gabener tapi saat itu masih bersyukur karena bisa keluar dan balik ke BSD, tidur di tempat yang nyaman. Banjir kedua? Masih bersyukur juga karena lagi ga di kosan dan lagi diluar meeting sama temen. Alhasil nginep di rumah temen hari itu. Sampai banjir yang ketiga, bener-bener dikosan dan bertahan ga kemana-mana. Makan seadanya (untungnya udah stock makanan). Dan ketika udah mulai surut, karena mati lampu akhirnya ngung...

Messy Spirituality

Sepanjang saya hidup 30 tahun ini (parah, gw tua banget ya :)) sebagai orang Kristen, yang dari kecil rajin sekolah minggu, pelayanan ini itu di masa remaja, pelayanan juga di pemuda, bahkan sampai sekarang mendampingi remaja, saya tidak pernah mempertanyakan apapun berkaitan dengan hidup bergereja. Menjalani semuanya itu dari kecil, tidak pernah terbesit sedikitpun untuk pindah gereja. Saya jalani semuanya dengan damai dan sukacita, walaupun ada masalah. Tapi entah, beberapa bulan terakhir, mungkin 3 bulan terakhir ini, rasa gelisah itu muncul dan saya jadi bertanya-tanya tentang gereja. Saya gelisah dengan keanehan-keanehan yang ada, saya gelisah dengan tujuan dari apa yang beberapa orang lakukan, saya gelisah dengan ajaran yang menurut saya makin lama bisa jadi menghilangkan Sola Scriptura dan mengulang-ulang topik yang sama, dan terlebih saya gelisah karena saya tidak mendapatkan "makanan" keras dan hanya terus disuguhi "bubur". Jujur, saya muak dengan segal...