Pergumulan dan Pengharapan

Entah mengapa seharian ini rasanya pengen nangis...mendengar kabar, membaca beberapa postingan di media sosial membuat hati ini rasanya sedih sekali...aah, entahlah apa deskripsi yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya melihat apa yang terjadi di negeri Indonesia saat ini..
Orang tidak bersalah, dihukum
Orang jahat, berkeliaran dimana-mana
Orang minoritas, tersingkir
Orang fasik, sehat dan makmur hidupnya

Bener-bener ga masuk di logika saya...sempat saya bertanya-tanya kepada Tuhan, "Dimanakah keadilan? Apakah benar-benar sudah mati hukum di negara ini? Mengapa Tuhan biarkan ini terjadi? Masih sanggupkah orang baik menjadi baik di negara ini?" dan segudang pertanyaan yang menemani saya berpikir dalam perjalanan pergi-pulang naik kereta..
Sempat saya pesimis dan meragukan Indonesia bisa berubah...sempat saya mem-posting di salah satu akun media sosial, "Rip Indonesia Justice"..bagi saya, kejadian hari ini benar-benar membuat saya muak dan kemarahan pun muncul terhadap pihak-pihak tertentu..

Tiba-tiba saja terbesit malam ini akan satu tugas paper yang pernah saya kerjakan tahun 2013...saat itu, dosen saya memberi tugas untuk membuat 1 eksposisi Perjanjian Lama dari kitab Ayub-Kidung Agung...dan saya memilih untuk membuat eksposisi Mazmur 73.

Ada satu pergumulan tersendiri mengapa saya memilih perikop tersebut. Mungkin karena sejak kecil, saya selalu bertanya-tanya kepada Tuhan yaa, membandingkan hidup orang saleh dan hidup orang fasik..melihat bahwa kehidupan orang-orang yang jahat sangat lancar, berlimpah, bebas melakukan apapun, sedangkan orang benar susah hidupnya, punya banyak pergumulan dan tidak jarang jalan yang harus ditempuh berat...mengapa orang jahat hidupnya baik-baik saja, sedangkan orang saleh menderita...saya ga pernah tau jawabannya, sampai saya mencoba meng-eksposisi perikop ini...

Dan kembali, malam ini ketika saya membaca apa yang saya tulis 4 tahun lalu, pada akhirnya saya diingatkan kembali bahwa Tuhan itu baik, Tuhan tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang dan Dia sumber pengharapan sejati. Karakter Allah tidak akan pernah berubah dan hal itu yang membuat saya kembali yakin bahwa cerita ini belum selesai.

Silakan bersedih akan apa yang terjadi hari ini, tetapi lihat hatimu, jangan sampai kamu tergelincir akan iri hati pada orang-orang jahat yang makmur hidupnya sehingga hatimu mengutuki mereka. Lakukan saja apa yang bisa kita lakukan.

Saya akan copy paste paper saya disini...maaf kalau panjang banget dan bahasanya baku karena ini tugas..hahaha...tapi semoga bisa menjadi perenungan kita bersama...karena Mazmur 73 kalau dibaca keseluruhan perikop, sangat menggambarkan perasaan saya akan apa yang sedang terjadi saat ini.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

KETIKA IMAN TIDAK SESUAI DENGAN KENYATAAN (MAZMUR 73)

I.    Pendahuluan
Realita kehidupan tidak selalu sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh manusia. Dalam perjalanan kehidupan orang percaya, seringkali manusia disodorkan dengan berbagai realita yang menimbulkan banyak sekali pertanyaan. Mengapa sepertinya hidup ini tidak adil? Mengapa orang fasik makmur dan kaya sementara orang saleh menderita? Berbagai pertanyaan ini pada akhirnya dapat membawa iri hati serta keraguan dalam diri manusia akan keadilan Allah. Terkadang di dalam kehidupan, orang percaya pun dapat tergoda untuk meragukan pemeliharaan dan kebaikan Allah.
Mazmur 73 adalah salah satu Mazmur yang baik dalam menceritakan pergumulan dimana iman orang percaya berbenturan dengan realita kehidupan yang hampir menggoyahkan iman.[1] Mazmur ini bukan satu-satunya Mazmur yang menceritakan pergumulan akan “kebahagiaan” orang fasik. Dalam Mazmur 32, 37, 49, dan 139, pemazmur juga melihat ketidakadilan dalam hidup sebagai realitas umum dan pribadi.[2] Mazmur 73 seringkali diidentifikasikan sebagai Mazmur hikmat karena berbicara mengenai 2 hal yang bertentangan serta keadilan Tuhan terhadap salah satunya[3]
Mazmur ini ditulis oleh Asaf, seorang keturunan Lewi, kepala pemimpin pujian dalam Bait Allah (1 Tawarikh 14:4-5). Bila diperhatikan lebih jauh, hal yang menarik dalam Mazmur 73 adalah perubahan emosi serta pola pikir dari Asaf yang pada akhirnya membawa perubahan dalam cara pandang Asaf. Pergeseran paradigma dalam memandang sesuatu terhadap orang lain ini dengan jelas digambarkan dalam Mazmur 73. Ini adalah pergumulan yang menyangkut permasalahan di dalam diri pemazmur yaitu masalah hati. Kata “hati” dalam Mazmur 73 muncul 6 kali (vv.1,7,13,21,26[2]). Hal ini mau menggambarkan bahwa keadaan hati adalah pusat dari seluruh pikiran, perasaan dan tingkah laku manusia.  


II.  Struktur
Pernyataan iman dan krisis iman (73:1-3)
Kecemburuan melihat kemakmuran orang-orang fasik (73:4-12)
Godaan untuk meninggalkan hati yang bersih (73:13-15)
Titik balik dan orientasi baru (73:16-26)
Penegasan iman kembali (73:27-28)

III.    Eksposisi (Mazmur 73:1-28)
III.1. Pernyataan iman dan krisis iman (73:1-3)
            Salah satu yang membuat Mazmur 73 ini menarik adalah kejujuran Asaf mengenai dirinya sendiri dan apa yang ia lihat disekitarnya. Asaf memulai mazmur ini dengan pernyataan iman bahwa Allah itu baik bagi mereka yang tulus dan bersih hatinya. Asaf memiliki pandangan kebenaran akan kebaikan Allah dan ia memulainya dengan statement “Allah itu baik” (v.1) serta mengakhirinya dengan statement yang serupa (v.27-28).[4] Diawali dengan pernyataan iman serta diakhir dengan pernyataan iman pula. Beberapa penafsir ada yang melihat pernyataan “Allah itu baik” dalam ayat 1 sebagai kesimpulan/konklusi dari seluruh perikop mazmur 73.[5] Setelah memberikan konklusi diawal, pemazmur mengajak kita untuk mendengarkan cerita bagaimana ia pada akhirnya mencapai konklusi tersebut, menemukan iman yang ia pegang dan seperti apa Tuhan yang baik itu.
Sejalan dengan hal itu, maka dalam ayat pembuka, pemazmur seakan-akan ingin berkata, “I am going to tell you a story; I am going to tell you what happened to me, but the thing I want to leave with you is just this : the goodness of God.”[6] Ini adalah sebuah penegasan iman dalam diri pemazmur dan bukan hanya kata-kata rutinitas yang seringkali diucapkan kebanyakan orang.
Namun walaupun Asaf memiliki pernyataan iman yang luar biasa, dalam ayat selanjutnya Asaf mengakui bahwa ia bingung dengan pengalaman hidup yang justru menunjukkan sebaliknya. “God is not good to the just”.[7] Dalam pandangan Asaf, Allah ternyata baik bukan hanya kepada mereka yang tulus dan bersih hatinya, tetapi juga kepada orang-orang fasik. Dalam hal ini Asaf melewati semacam krisis iman.
Walaupun dalam ayat 1 Asaf dengan jujur mengakui bahwa Allah itu baik, kudus dan tulus, namun dalam ayat 2 kemudian Asaf mengkontraskan dengan dirinya sendiri, “Tetapi aku..”.[8] Asaf mengakui kelemahannya karena pikiran yang tidak murni dan mengakui bahwa kakinya nyaris tergelincir. Asaf menjadi ragu-ragu. Dalam hal ini, permasalahannya adalah ia membandingkan kesehatan, kekayaan dan kemakmuran mereka dengan kemakmurannya yang kurang dan gelisah ketika Tuhan membiarkannya berada dalam suatu kondisi yang berkepanjangan. Hal ini yang mungkin juga sering dialami umat percaya. “Our problem is envy, and envy is criticizing God. It is sin.”[9]
Kata envy berbeda dengan jealous. Envy adalah perasaan tidak senang yang timbul oleh karena sesuatu hal yang dimiliki oleh orang lain. Perasaan ini biasanya terjadi oleh karena perasaan kehilangan atau kekurangan yang timbul karena melihat apa yang dimiliki orang lain. Dalam hal ini, pemazmur melihat kemakmuran serta kekayaan orang fasik sedangkan dirinya tidak memiliki hal tersebut. Sedangkan jealous adalah kekhawatiran bahwa apa yang dimilikinya bisa diambil orang lain. Alkitab sering kali menyebut Allah sebagai Allah yang jealous karena Allah tidak ingin milik-Nya diambil dari-Nya (Kel 20:5). Berbeda dengan jealous, envy bersifat negative. Envy mempengaruhi perasaan seseorang sehingga dapat dilihat pergerakan emosi Asaf dari ayat pertama sampai ayat yang ketiga. Dari sukacita memuji Allah, lalu menjadi ragu-ragu serta tidak bahagia melihat orang lain yang makmur.

III.2. Kecemburuan melihat kemakmuran orang-orang fasik (73:4-12)
Ketika mendeskripsikan orang fasik dalam ayat 4-12, terliaht bahwa pemazmur adalah seorang observer yang detail. Dari hasil observasi tersebut, maka dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu ayat 4-6 dan ayat 7-11. Pada setiap masing-masing bagian ini, didominasi oleh kata “mereka” dan diakhiri dengan kata penting “Sebab itu” (vv.6, 10). Keseluruhan bagian diakhiri dengan pernyataan kesimpulan dalam ayat 12, kata “orang-orang fasik” adalah pengulangan dari ayat 3.
Dalam ayat 4-6, ada beberapa karakteristik dari orang fasik. Pertama, orang fasik meninggal dengan tenang. Mereka tidak memiliki rasa sakit, kepedihan atau trauma menghadapi kematian. Kedua, “their strength is firm” atau secara literal diartikan gemuk. Ketiga, mereka tidak mengenal kesusahan dan penyakit seperti orang lain (v.5). Sebagai hasilnya mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan (v.6).
Selanjutnya dalam ayat 7, Asaf melanjutkan observasinya. Hati mereka meluap-luap dengan sangkaan. In the OT, reference to human “fat” is generally pejorative. It usually implies resistance to God; a fat heart is like a hard heart (17:10; 119:70).[10] Kenyamanan dalam hidup membuat orang fasik tidak mengakui Sang Pemberi sehingga dalam hati mereka terus menerus mengikuti kehendak Iblis. Dalam ayat 8-11, pemazmur mendengar ejekan, perkataan jahat, arogansi dan intimidasi mereka. Orang fasik tidak hanya melihat kebawah merendahkan orang saleh, namun mereka juga melihat keatas dengan arogansi yang sama, menyangkal bahwa Allah tau akan apa yang sedang terjadi (v.9). Mereka berpikir diri mereka superior dibandingkan orang lain sehingga mereka membuka mulut melawan langit.
Dalam ayat 12, Asaf meringkaskan keluhannya akan orang fasik. Mereka sangat riang dan terus beroleh kemakmuran, bahkan ditengah kejahatan mereka. Perjanjian Lama berkali-kali menjanjikan berkat bagi orang saleh yang mendengarkan suara Tuhan dan melakukan perintah-Nya dengan setia. Hal ini dapat dilihat dari Ulangan 28:1-14. Berkat dan kutuk akan diberikan sesuai dengan orang yang mendengarkan suara Tuhan serta melakukan perintahNya atau orang yang tidak melakukan hal tersebut. Berdasarkan janji yang ada dalam kitab Ulangan, pemazmur mungkin berharap bahwa kemakmuran akan terjadi pada dirinya dan bukan pada orang fasik yang disebutkan dalam ayat 4-12 sehingga dengan membandingkan karakteristik ini dengan dirinya, ada perasaan cemburu kepada orang fasik dan ketidakmengertian akan jalan Allah.

III.3. Godaan untuk meninggalkan hati yang bersih (73:13-15)
            Berbagai fakta mengenai orang fasik memacing pemikiran pemazmur untuk membuat suatu kesimpulan logis mengenai apa yang ia alami. “Surely, in vain I have kept my heart pure and washed my hands in innocence” (v.13). Kata “surely” dan “pure in heart” pararel dengan ayat 1, namun ayat 13-14 lebih berfungsi sebagai claim dari ayat 1.[11] Pemazmur mengklaim bahwa hatinya bersih. Ia membandingkan orang fasik yang tidak bersih hatinya namun tidak terkena penyakit (v.5) dengan dirinya dalam ayat 14 yang kena tulah sepanjang hari. Dalam bagian ini, Asaf membuat kesimpulan, “Jika Allah tidak memberkati orang benar dan menghukum orang jahat, seperti yang Ia janjikan dalam Ulangan 28, jadi apa baiknya menjadi orang benar?”. Kembali disini terlihat cara pandang Asaf dan juga emosi didalamnya.
            Asaf melalui sebuah krisis iman. Namun kita tau dari ayat 1 bahwa ayat 13-14 ini bukanlah sebuah kesimpulan terakhir pemazmur. Meskipun dalam titik terendahnya, Asaf tetap percaya kepada Allah. Hal ini terlihat dalam ayat 15. Salah satu pertimbangan untuk mempertahankan kakinya agar tidak tergelincir adalah untuk generasi anak-anak Allah. Ketika ia mengalami pergumulan ini, ia tidak dalam kondisi terisolasi, namun sebagai bagian dari sebuah komunitas sehingga Asaf tidak lupa bahwa ia memiliki tanggungjawab sebagai seorang pemimpin umat Allah.[12]

III.4. Titik balik dan orientasi baru (73:16-26)
            Dalam ayat 16-17, terlihat bahwa ada sebuah perubahan dari krisis iman kepada kesadaran akan apa yang Tuhan kerjakan. Perdebatan dan keraguan yang ada dalam hati Asaf  pada akhirnya berujung pada sebuah jawaban atas pergumulannya. Ada perubahan paradigma dan perilaku Asaf. Sebagai ganti protes dalam ayat 13-14, muncul kerendahan hati dalam diri Asaf untuk masuk ke dalam tempat kudus Allah. Apa hubungan ketika Asaf masuk ke dalam tempat kudus Allah dengan perubahan yang dialaminya?
In the sanctuary Asaph came to see everything from God’s perspective rather from his own limited and sinful worldview. He came to see the lives of the wicked and also his own life from the perspective of eternity. He experienced a paradigm shift.[13]

Masuk ke dalam tempat kudus Allah, menyembah Dia memungkinkan Asaf untuk membingkai ulang caranya melihat hal-hal tertentu dan menegaskan kembali kebenaran yang ia ketahui. Ketika Asaf melihat kebenaran tersebut, hal tersebut membawanya keluar dan menjalani kehidupannya dibawah terang dengan pengetahuan yang baru. “Going into the sanctuary made it possible to reflect on that truth and generated a new conviction about it”.[14]
            Dalam sebuah studi mengenai Mazmur, Roy Clements, seorang pastor dari Eden Baptist Church di Cambrige mengatakan, “Worship. . . put God at the center of our vision. It is vitally important because it is only when God is at the center of our vision that we see things as they really are”.[15] Hal ini juga dialami oleh Asaf. Ketika masuk ke dalam tempat kudus Allah, Asaf menemukan orientasi baru/reorientation setidaknya dalam 3 hal.
1.   Orientasi baru terhadap orang fasik (vv.18-20)
            Pengalaman dalam tempat kudus membawa awareness baru mengenai hasil dari perilaku orang fasik pada akhirnya. Bila dilihat dari perspektif Asaf dalam kondisi dimana ia masih envy, orang fasik tampaknya tidak terkalahkan dan perjuangan untuk terus murni dan setia tampak sia-sia. Namun sekarang Asaf memiliki cara pandang baru dalam melihat orang fasik (v.18-20). “They are no more stable than a fantasy”.[16] Kemakmuran dapat hilang seketika dan tidak meninggalkan jejak. Dalam hal ini, persepsi awal pemazmur mengenai orang fasik dan gaya hidupnya ternyata hanya sebuah fenomena.
2.   Orientasi baru terhadap diri sendiri (vv.21-22)
            Asaf mengingat kembali pengalaman yang dialaminya pada ayat 2-16 dan menyadari ini adalah masalah hatinya. Martin Buber dalam essay-nya mengenai Mazmur mengatakan,
The state of the heart determines whether a man lives in the truth, in which God’s goodness is experienced, or in the semblance of truth, where the fact that it “goes ill” with him is confused with the illusion that God is not good to him.[17]

Dalam hal ini, hati adalah kata kunci dari mazmur ini. Keadaan hati yang tidak baik telah membuat pemazmur bereaksi terhadap kesejahteraan orang fasik. Seperti disebutkan sebelumnya, kekuatan terbesar dari orang fasik adalah kekuatan mereka untuk membangkitkan kecemburuan dan ketidakpuasan di hati orang-orang yang setia kepada Tuhan. Pengalaman masuk ke tempat kudus Allah menyingkapkan kesadaran pada Asaf akan kondisi hatinya dan ia sadar akan dirinya yang tidak bijaksana dalam melihat orang fasik.
3.   Orientasi baru terhadap kehadrian Allah (vv.23-26)
Pengalaman dalam tempat kudus menimbulkan perasaan menganai kehadiran Allah. Sekarang Asaf tau bahwa Allah selalu beserta dia (v.23), daging dan hati dapat lenyap, namun Allah tetap abadi selamanya (v.27). Ayat-ayat ini adalah ekspresi terbaik dari spiritualitas sejati Asaf. Nasihat Allah saat ini menguasai kehidupan Asaf dan ia merasakan diangkat kedalam kemuliaan oleh Allah (v.24). Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan dalam Matius 5:8, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah”. Pengalaman bersama Allah dalam tempat kudus tidak mengubah akan situasi yang terjadi. Orang fasik tetap bebas dan orang saleh mungkin akan menderita. Namun pengertian yang baru membuat Asaf mampu menanggung permasalahan karena ia sekarang tau bahwa Allah beserta dengan dia.

III.5. Penegasan iman kembali (73:27-28)
            Ayat penutup ini meringkas kembali perjalanan spiritual Asaf terutama dalam hal visi baru yang ia peroleh dalam pengertian jauh dan dekat dengan Allah. Kata “sesungguhnya” dalam ayat 27 mengartikan ulang kesimpulan yang ia buat dalam ayat 12 mengenai orang fasik. Pengertian akan orang-orang fasik yang selalu senang dan bebas sekarang dilihat dari arah yang berbeda. Orang fasik yang tidak dekat dengan Allah akan dihukum (v.27). Asaf akhirnya menemukan suatu prinsip dimana dalam Mazmur 1 sudah diperkenalkan yaitu prinsip “perilaku dan konsekuensi”.
            Ayat 28 menegaskan kembali iman yang ia mulai dalam ayat pertama “Truly God is good to the upright” namun dalam ayat 28, ia mengemukakan dengan cara yang lebih personal “But for me nearness to God is good for me[18] Ia tidak lagi mengingini kemakmuran dan hal-hal yang dimiliki orang fasik. Yang ia ingini adalah Allah itu sendiri. Pada akhirnya ia mencapai sebuah kesimpulan. Pertama, orang fasik akan binasa pada akhirnya dan kedua, Allah akan beserta dengan orang benar dan mereka akan bersama dengan Dia. Ia menyadari bahwa yang terpenting adalah komitmen untuk dekat kepada Allah dan mencari pertolongan-Nya. Dekat dengan Allah berarti menjadikan Allah tempat perlindungan, tempat dimana ia dapat aman, menemukan kelegaan dan melihat kembali pekerjaan Allah dalam kehidupan orang percaya.
Terdapat sebuah progress akan kata ganti dari ayat 4 sampai 28. Pada bagian pertama, ayat 4-12, kata ganti yang ditekankan adalah “mereka”, menunjuk kepada orang fasik. Dalam bagian kedua, ayat 13-17, kata ganti yang dominan adalah “aku”. Melihat kemakmuran orang fasik, kemudian ia melihat kepada diri sendiri dan jatuh saat membandingkan dengan tidak tepat. Dalam bagian ketiga, ayat 18-22,  kata ganti yang dipakai adalah “Kau”. Pemazmur berhenti  membandingkan dirinya dengan orang lain dan mulai mendekat kepada Allah. Bagisn terakhir, ayat 23-28, kata ganti Kau dan aku digabungkan. Asaf menyadari bahwa tangan Allah memegang tangannya dan Asaf tidak mengingini apapun dibumi selain Allah. Asaf menyadari bahwa tangan Allah memegang tangannya dan Asaf tidak mengingini apapun dibumi selain Allah. Pada akhirnya Asaf menemukan dirinya self content dalam Allah.

IV.    Kesimpulan
Pertanyaan dan keragu-raguan dalam hati adalah bagian dari kehidupan manusia terutama ketika seseorang berada dalam kondisi menderita. Mazmur 73 kembali mengingatkan bahwa keadaan hati seseorang dapat mempengaruhi cara pandang, berpikir bahkan perasaan kepada orang lain yang lebih baik dari dirinya dan tidak menutup kemungkinan bahwa keadaan hati tersebut dapat membawa seseorang kepada dosa. Penting untuk menyadari bahwa hati adalah pusat dari segala sesuatu dan manusia harus terus menerus aware akan apa yang sedang terjadi dalam dirinya.
Mazmur 73 juga mengajarkan untuk terus menerus aware akan kehadiran Tuhan dalam hidup manusia. Meskipun di dalam kehidupan berbagai pengalaman membawa manusia mengalami keraguan dan tergoda untuk jatuh, melalui mazmur ini kembali diingatkan bahwa esensi iman bukan manusia yang memegang tangan Tuhan, namun Tuhan lah yang memegang tangan manusia.
Selain itu, Mazmur 73 juga mengajarkan bahwa didalam setiap pertanyaan dan keragu-raguan akan iman, dengan jujur setiap orang dapat datang mendekat kepada Tuhan. Dengan mendekat kepada Tuhan, mata rohani seseorang akan semakin terbuka melihat indahnya kekekalan surgawi dan mata jasmaninya akan semakin tertutup melihat fananya kemuliaan dunia ini. Sehingga cara pandang seseorang terus menerus diperbaharui ketika ia datang mendekat kepada Tuhan dan pada akhirnya manusia dapat menemukan self content di dalam Tuhan dan bukan kepada hal-hal yang ada dalam dunia ini.




[1] James L. Crenshaw, The Psalms : An Introduction (Grand Rapids, Michigan : Eerdmans Publishing Co, 2001), 111
[2] Richard J.Clifford, Psalms 73-150 (Nashville : Abingdon Press, 2003), 15
[3] James H.Waltner, Believers Church Bible Commentary : Psalms (Scottdale : Herald Press, 2006), 356
[4] James M.Boice, Psalms 42-106 (Grand Rapids, Michigan : BakerBooks, 1996), 611
[5] James H. Waltner, Believers Church Bible Commentary : Psalms (Scottdale : Herald Press, 2006), 357
[6] John Goldingay, Psalms Vol 2 (Grand Rapids, Michigan : BakerAcademic,), 401
[7] Richard J.Clifford, Psalms 73-150 (Nashville : Abingdon Press, 2003), 17
[8] James M.Boice, Psalms 42-106 (Grand Rapids, Michigan : BakerBooks, 1996), 611
[9] James M.Boice, Psalms 42-106 (Grand Rapids, Michigan : BakerBooks, 1996), 612
[10] John Goldingay, Psalms Vol 2 (Grand Rapids, Michigan : BakerAcademic,), 405
[11] John Goldingay, Psalms Vol 2 (Grand Rapids, Michigan : BakerAcademic,), 407
[12] James M.Boice, Psalms 42-106 (Grand Rapids, Michigan : BakerBooks, 1996), 613
[13] James M.Boice, Psalms 42-106 (Grand Rapids, Michigan : BakerBooks, 1996), 613
[14] John Goldingay, Psalms Vol 2 (Grand Rapids, Michigan : BakerAcademic,), 409
[15] James M.Boice, Psalms 42-106 (Grand Rapids, Michigan : BakerBooks, 1996), 613
[16] James M.Boice, Psalms 42-106 (Grand Rapids, Michigan : BakerBooks, 1996), 614
[17] Marvin E.Tate, Word Biblical Commentary volume 20 : Psalm 51-100 (Dallas, Texas : Word Books, 1990), 239
[18] Richard J.Clifford, Psalms 73-150 (Nashville : Abingdon Press, 2003), 20

0 Responses