What is love? (part 1)

Tulisan ini sudah tertunda hampir 2 tahun dan hanya tersimpan di draft, hahaha...tapi entah kenapa akhir-akhir ini sering melihat, meng-observasi, berdiskusi tentang love and marriage :) jadi muncul lagi apa yang dulu pernah saya pikirkan..hehehe...dan itu menghidupkan mesin menulis saya ditengah deadline revisi yang belum selesai :p Agak panjang nih...jadi part 1 dulu ya...

Beberapa tahun yang lalu, saya menonton sebuah reality show di TV yang berjudul "Mobbed" yang di tayangkan di Star World..Saya bukannya mau lagi promosi acara TV..hehehe...tapi entah mengapa, sehabis nonton acara tersebut, ada perasaan yang menggelitik saya dan membuat saya berpikir lebih jauh..

Mobbed adalah sebuah reality show dimana seseorang meminta bantuan ke acara ini untuk melakukan sesuatu, entah itu melamar, meminta maaf dan sebagainya dengan melibatkan ratusan bahkan ribuan massa yang tidak dikenal...Jadi, bisa dibilang orang yang memegang acara ini sebagai EO-nya, sedangkan orang yang meminta pertolongan itu mendengarkan ide-ide darinya. Ini adalah pertama kali saya menonton acara tersebut dengan tidak disengaja. Dari melihat iklannya sih menarik, melihat banyak orang yang menari dengan koreografi, dekorasi yang menarik, dan sebagainya membuat saya penasaran dengan acara ini.. *maklum, saya suka segala sesuatu yang berbau-bau musikal dan dance.. =)
Sampai suatu sore saya tidak sengaja menonton...

Sore itu, acara tersebut bertema tentang seorang pria yang akan melamar pacarnya...Saya begitu terkagum-kagum dengan persiapan yang ada. Dari mulai tempat, pengaturan koreografi (bahkan sampai meng-upload di youtube agar massa dapat mempelajari gerakannya), dan juga adanya sedikit skenario drama kecil yang direncanakan untuk memberi surprise bagi sang pacar...Semuanya tampak begitu luar biasaaa buat saya karena melibatkan banyak orang yang menari dengan musik, bermain drama, dan dekorasi yang mahal sekali... *yaaah...sebagai seorang perempuan yang melihat ada laki-laki yang ingin memberi surprise seperti itu siih, kalau saya di posisi ceweknya, saya juga akan meleleh..hahahaa... =D

Saya terus menerus berdecak kagum dan menanti-nanti apa yang terjadi selanjutnya...sampaaiii, orang yang berperan menjadi EO-nya berkata kepada tim-nya, "We all have seen a propose right...? Why don't we make a little dangerous?" *mm...dangerous?? ngelamar sambil terjun payung gitu? maksudnyaa apaan niih...apa lagi nih kejutannya, apa lagi...saya mulai penasaran dan deg-degan...

Orang tersebut melanjutkan kata-katanya dengan penekanan, "Here's my idea...what if...we make a wedding...right now...a spontaneous wedding.."

*jenggg jeenng* Mendengar itu, spontan saya bereaksi sambil berteriak ke arah TV, "Haahhh...?? Uda gilaaaa lo..." percuma juga siihh teriak, toh dia juga ga denger..hahahaa...tapi saya bener-bener gregetan sama ide gila orang ini...
Dan ternyata, tim nya juga bereaksi yang sama, tentu saja tidak menyebut dia gila...hahahaha...tapi tertawa dan berpikir itu mustahil, bagaimana jika pacarnya bilang "tidak" ketika dilamar dan sebagainya. Segala keraguan yang dilontarkan tim ini tampak percuma sampai salah seorang berkata "Bagaimanapun juga, kita harus tanya pihak cowoknya terlebih dulu, apakah dia mau melakukan ini". Dengan serta merta, orang EO nya langsung menunjuk seorang tim-nya untuk menanyakan hal ini pada sang pria.
Saat itu saya berpikir, kayaknya ga mungkin mau deeh cowoknya, masa belum tau jawaban pasti ceweknya, dia mau ambil resiko seperti itu...tapi ternyata saya salah...ternyata saya memang tinggal di dunia yang sudah gila... -.-"

Apa yang terjadi selanjutnya..? Sudah pasti bisa ditebak, semua yang dipersiapkan berjalan lancar. Reaksi wanita ini cukup shock setelah drama kecil yang membuatnya menangis, dilanjutkan dengan serentetan kejadian-kejadian orang yang menari-nari untuknya sambil membawa dia ke depan pria tersebut. Dia terus menerus berkata, "Oh my god...o my god.." melihat semua yang ada, speechless dan menangis. Lalu pria ini melamar di depan orang banyak. Tidak menunggu lama, wanita ini langsung menjawab iya...

Saya berharap semua itu hanya berhenti sampai disitu saja dan selesai. Saya suka sekali dengan kejutan yang dibuat pria ini untuk melamar pacarnya...tapiiiii, tidak dengan tambahan melakukan pernikahan saat itu juga..!
Saya benar-benar ga habis pikir ketika perempuan tersebut juga menyetujui untuk langsung menikah. Yang ada di pikiran saya saat itu, "Mm..apa mungkin yaa dia mengatakan iya untuk menikah saat itu karena dalam kondisi shock, ga bisa berpikir jernih...atau dia tidak ingin mempermalukan dirinya didepan banyak orang."
Yaahh, apapun alasan dia, saya benar-benar tidak setuju jika pernikahan dilakukan tanpa persiapan...walaupun sang pria sudah mempersiapkan segala sesuatunya, dari baju pengantin yang langsung dipakai, mengundang orangtua perempuan bahkan sampai ada yang pendeta untuk mempersatukan mereka...apakah pernikahan semudah itu..?? ini pernikahan gituu meeen..seumur iduuppp...salah pilih orang, akan menderita seumur iduupp.. -.-"


Well...saya memang belum menikah sih :p tapi saya belajar banyak dari keluarga lain, bahkan keluarga saya sendiri.

Kebanyakan pasangan yang akan menikah, memiliki pemikiran bahwa mereka akan menjalani kehidupan pernikahannya dengan bahagia, mendirikan rumah, memiliki anak dan hidup dalam mimpi seperti yang tertulis dalam dongeng-dongeng, "and then they lived hapiily ever after." Tamat.
Banyak pasangan beranggapan bahwa mereka akan memasuki kebahagiaan pernikahan yang sempurna karena mereka saling mencintai. Cinta menjadi dasar sebagian besar orang untuk melangkah ke dalam sebuah pernikahan.

Seringkali pasangan berkata bahwa mereka saling jatuh cinta. Tidak ada yang bisa dilakukan ketika muncul perasaan tersebut. Hal ini terjadi diluar kendali manusia dan seolah-olah 2 pribadi ini terperangkap didalamnya. Mereka memutuskan untuk menikah dan beberapa tahun setelahnya berkata bahwa mereka tidak saling mencintai lagi. Cinta yang semula menjadi dasar seseorang mengambil keputusan untuk menikah ternyata tidak berhasil. 
Soo...apa sebenarnya cinta itu? Jika “being in love” tidak dapat menjadi dasar untuk membangun sebuah pernikahan yang bahagia, lalu apa yang dapat membuat pernikahan bertahan? 

Les & Leslie Parrott dalam buku "Selamatkan Pernikahan Anda Sebelum Pernikahan itu dimulai" mengatakan,



Cinta adalah suatu campuran yang aneh dari hal-hal yang bertentangan. Di dalam cinta terkandung kasih sayang dan kemarahan, kegairahan dan kebosanan, kestabilan dan perubahan, pembatasan dan kebebasan. Paradoks cinta yang paling mendasar adalah bahwa dua menjadi satu, namun tetap dua.

Paradoks mengenai cinta ini dalam realitanya sulit dipahami. Ketika masa pacaran, seringkali seseorang hanya melihat hal-hal baik yang muncul dari pasangannya dan perasaan jatuh cinta lebih kuat. Namun ketika memasuki sebuah pernikahan, beberapa pasangan mulai mempertanyakan apakah mereka sungguh-sungguh mencintai pasangannya ketika mereka menemukan banyak sekali perbedaan-perbedaan dalam diri pasangannya. Tidak jarang ketika perbedaan itu ditemukam, kita mendengar kalimat, "Saya tidak mencintai dirinya lagi."

Biasanya ketika kata "cinta" digunakan seseorang untuk menjelaskan bahwa ia mencintai pasangannya, hal ini merujuk kepada sebuah kondisi menyenangkan ketika menjalani masa pacaran. Namun seringkali seseorang yang jatuh cinta luput untuk membedakan antara romance dan love. Ini beda loohh :)
Lederer & Jackson membedakan antara 2 hal tersebut.

Romance is built on a foundation of quicksilver nonlogic. It consists of attributing to the others person – blindly, hopefully, but without much basis in fact - the qualities one wishes him to have

Ketika cinta romantika seperti ini dibawa sampai ke dalam pernikahan dan menemukan kualitas yang diharapkan dalam diri pasangan memudar atau tidak muncul, maka mereka akan mendapati dirinya kecewa dan tidak dapat mentoleransi pasangannya.

Perasaan jatuh cinta, pengalaman emosional atau yang disebut romance ketika masa pacaran ternyata tidaklah cukup menjadi landasan seseorang memasuki pernikahan. Sebuah penelitian menunjukkan, “The average life span of the “in love” obsession is two years". Jadi dalam 1-2 tahun pertama, semua perbedaan dan masalah dapat diatasi karena cinta masing-masing orang masih berkobar dan berapi-api. Namun seseorang tidak terus tinggal dalam taraf  euphoria akan cinta selamanya. Setelah masa itu, seseorang akan menjadi lebih realitis akan apa yang dihadapi. Seseorang mulai melihat apa yang selama ini tidak pernah dilihat dari pasangannya ketika pasangan mulai menunjukkan pribadinya. *telat sadarnya :p*

So...kalau romance berbeda dari love, lalu apa itu cinta? Pertanyaan sulit sih ini...kadang pun saya bertanya-tanya sama Tuhan, apa itu cinta...ajarin saya tentang cinta...

Berhubung saya suka baca buku, ada buku dari Erick Fromm judulnya "The Art of Loving". Dia bilang begini, "Love is the active concern for the life and the growth of that which we love. Where this active concern is lacking, there is no love."

Kata kuncinya ada di kata "Growth". Yupp..pertumbuhan...cinta ga sejalan searah, tapi 2 arah dimana terjadi mutual respect dan saling menstimulir pertumbuhan pasangannya.
Dosen saya pernah berkata, "Kalau kalian disini lagi pacaran, cek 2 hal ini : apakah kalian semakin memiliki karakter yang baik? Dan apakah kalian semakin dekat dengan Tuhan melalui pacaran itu? Kalu nggak, pikirkan ulang apa yang sedang kalian lakukan." Hahaha...

Si Erick Fromm ini jelasin dengan sangat baik :)


To love somebody is not just a strong feeling – it is a decision, it is a judgment, it is a promise. If love were only a feeling, there would be no basis for the promise to love each other. A feeling comes and it may go.

Nah itu dia...a feeling comes and it may go...soo, bisa dikatakan bahwa cinta bukan sekedar perasaan, tapi melibatkan sisi kognitif seseorang

Melihat dampak yang terjadi ketika seseorang masuk pernikahan hanya membawa perasaan, hasilnya akan mengerikan sekali...ada orang bilang "cinta itu buta"..iya, memang buta...tapi Tuhan nggak cuma ngasih perasaan, Dia juga ngasih kita kemampuan untuk berpikir, menganalisa, melihat potensi, mempertimbangkan semuanya. Cinta Tuhan ke kita tidak pernah buta, Tuhan mencintai kita nggak hanya dengan perasaannya saja, tapi Dia juga memakai cara-cara yang ga biasa untuk mencintai kita, untuk membuat kita bertumbuh. 

Saya masih belajar apa itu cinta sih...dan sumber terbaik untuk belajar tentang cinta adalah belajar dari Sang Cinta itu sendiri :) God is love.

Bersambung yaa...uda low batt matanya :D next saya akan bahas tentang cinta berdasarkan kebutuhan seseorang dari sisi psikologis-nya.

(to be continued...)

2 Responses

  1. Thank you Sema :)
    Salam kenal ya