What's the CORE? (Part 2)

Okee..kita langsung aja lanjutin Part 1 yang belom terselesaikan yaa.. :) Di Part 1 kita uda ngomongin hambatan pertama yang bisa terjadi pada diri kita ketika kita fokus untuk meningkatkan kerohanian kita atau ingin dilihat baik..Sekarang kita masuk ke hambatan ke 2..

2. Hambatan Pencuri Mimpi

Sadar atau nggak temen-temen, banyak dari kita yang mempunyai mimpi yang besar untuk hidup bersama Tuhan...memimpin dengan antusias, militan, semangat..tapiii, terkadang mimpi itu hancur setelah kita lihat orang lain yang lebih berpengalaman daripada kita..

Banyak kisah di Alkitab mengenai orang Farisi. Mungkin kita sudah kenal dalam kisah orang Farisi yang mencoba mencuri mimpi orang buta yang baru sembuh (Yoh 9). Orang Farisi merasa tau semua hal, merasa dia yang paling mentaati hukum Tuhan sehingga ketika ada orang lain yang bisa melakukan kuasa yang sebelumnya ia tidak tau, maka orang Farisi terus mendesak orang buta yang baru sembuh dan bahkan hampir merampas sukacitanya. Ia tidak terima! Ia ingin orang lain merasakan apa yang ia rasakan juga (namun dalam hal ini orang Farisi salah dan justru bisa mencuri mimpi orang buta tersebut).

Fokus untuk meningkatkan kerohanian kita, dapat menjebak kita menjadi orang Farisi temen-temen. Ngeri yaa? >.< secara nggak sadar, kita justru bisa mencuri mimpi orang lain, mimpi orang yang baru terima Tuhan misalnya, atau mimpi orang yang mengalami perubahan hidup.
Fokus meningkatkan kerohanian kita walaupun kita sudah melakukan semuaa perintah Tuhan, pada akhirnya Tuhan tidak berkenan pada hal-hal itu...Terus Tuhan berkenan pada hal apa donk?
Coba yuk kita simak dalam Lukas 18:9-14

9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:
10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
13 Tetapi pemungkut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Orang Farisi sangat-sangaatt hebat dalam hal kerohanian. Mereka bukan perampok, bukan pezinah, mereka berpuasa 2 kali seminggu, ngasih persepuluhan dari penghasilan. Kalau dibayangin ada orang yang seperti itu jaman sekarang, mungkin kita akan memberikan mereka label "orang rohani". Setuju nggak temen-temen?
Tapi, coba kita simak kata-kata yang saya beri warna merah yang pertama. Orang Farisi bilang bahkan ia bukan seperti pemungut cukai...berarti ketika ia berdoa, ia sedang membandingkan dirinya dengan orang lain. Ketika orang Farisi berdoa seperti itu, kemungkinan besar ada pemungut cukai didekatnya. Jarak yang tidak terlalu jauh sehingga orang Farisi dapat mengambil contoh seperti itu. Akibatnya..bisa jadi ketika mendengar doa orang Farisi tersebut, pemungut cukai dapat merasa rendah, ga layak, minder dan sebagainya..
Pencuri mimpi...

Balik lagi...apa yang salah dengan melakukan semua yang dilakukan orang Farisi itu? Bukankah itu baik?
Yup, itu memang baik..berpuasa, berdoa, ngasih persepuluhan...tapi balik lagi, inti dari hukum Taurat sendiri bukan sekedar itu..inti hukum Taurat justru tidak dijalankan oleh orang Farisi. 2 hal terpenting yaitu mengasihi Tuhan dan sesama...
Tuhan pengen kita berdoa seperti pemungut cukai, "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini".
Kata-kata ini sangat-sangat menggambarkan hati yang hancur, jiwa yang remuk dan membutuhkan anugerah Tuhan dalam kehidupan ini...

Bagaimana dengan kita? Apakah kita selama ini seperti orang Farisi yang merasa benar, merasa sudah melakukan seluruh perintah Tuhan, dan suka membandingkan diri dengan orang lain sehingga kita seringkali mencuri mimpi orang lain?
Atau...kita seperti pemungkut cukai yang sadar akan keberadaan dirinya yang berdosa dan butuh anugerah Tuhan?

Pengalaman yang tidak dievaluasi, it's nothing..!

0 Responses