Christmas : What is the true meaning for you?

Natal...
Baru 2 tahun belakangan ini, saya memikirkan makna natal yang personal buat diri saya sendiri...
Ya...selama ini saya ga pernah berpikir apa sih sebenernya natal itu...ngapain sih tiap tahun ngerayain natal...okee...bukannya ga tau sama sekali apa natal itu...mungkin jawaban anak sekolah minggu ketika ditanya apa natal itu, mereka akan menjawab natal ya kelahiran Tuhan Yesus...kita ulang tahun aja di rayain, masa Tuhan nggak? Mungkin jawaban teologis ya natal itu Tuhan lahir, datang ke dunia buat manusia...
Tapi rasanya kok terlalu formal ya jawaban-jawaban seperti itu...terlalu baku...saya tetap ingin jawaban yang personal buat saya..

Yang saya tau, sejak kecil saya selalu pergi ke rumah nenek kakek di Jogja, bertemu saudara-saudara, kumpul keluarga besar, pergi jalan-jalan, menonton film natal yang selalu muncul di TV, entah Home Alone atau film-film keluarga yang lainnya pada dan hari natal, kami pergi ke gereja bersama keluarga besar...saya selalu menanti natal...suasana ceria ketika bisa bertemu saudara-saudara...suasana gembira yang luar biasa..suasana bisa bercanda bersama...itulah bayangan saya akan hari natal...

Tapi 2 tahun lalu, sejak satu per satu kakek nenek saya meninggal, rutinitas tersebut lenyap...
Dan natal tahun lalu, suasana yang selama ini terbangun, hilang...
Saya tidak bisa merasakan sukacita sama sekali...saya nggak lagi merasa gembira menyambut natal...saya gelisah...sampai-sampai saya mempertanyakan, "Where are you Christmas? Why can't i find you? Why have you gone away? Where is the laughter you used to bring me? My world is changing, i'm rearranging, does that mean Christmas changes too"
Ya...dunia berubah, saya pun berubah, usia saya bertambah, apakah natal berarti berubah juga?
Saya terus bertanya dalam hati...
Tahun lalu saya mempertanyakan tentang sukacita...kemana sukacita natal itu Tuhan? Saya sama sekali nggak bisa merasakan hal itu lagi...
Sampai Tuhan menjawab lewat seorang senior di gereja yang bilang, "Gimana ya kak, kalau memang ini yang Tuhan mau?"

Saya nggak ngerti waktu itu apa maksud perkataan seorang senior tersebut...tapi pada akhirnya saya tau...yaa...gimana kalau memang sebenernya Tuhan sedang mempertanyakan sukacita yang selama ini saya dapat? Sukacita yang berasal dari suasana natal, kado, hadiah, sale di mall-mall, musik-musik di gereja yang bagus, perayaan-perayaan natal yang meriah, pelayanan di gereja bersama teman-teman...apakah sukacita saya selama ini berasal dari hal tersebut? Kalau iya, berarti memang benar Tuhan sedang mengajar saya untuk melihat ulang arti sukacita tersebut...
Dan tahun lalu, inilah natal bagi saya, "If Christmas isn't merry, take heart! Christmas need not be merry to be meaningful..it's Christ of Christmas we celebrate, not Christmas itself...ponder Him"

Tahun ini...di usia saya yang semakin bertambah...di tengah segala kesibukan saya...saya kembali mencari makna natal bagi saya sendiri...cukup sulit jujur saja...karena saya terlalu sibuk memikirkan urusan saya sendiri...semakin dewasa, saya merasa semakin saya rentan sekali untuk fokus kepada diri saya dan melupakan Tuhan...

Minggu lalu tepatnya, dalam khotbah dan persekutuan pengurus Pemuda yang dilakukan, disanalah saya mulai menemukan kepingan-kepingan apa yang ingin Tuhan sampaikan...
Ketika persekutuan pengurus, saya menitipkan 1 pertanyaan kepada seseorang yang menjadi MC untuk ditanyakan kepada semua pengurus...karena format waktu itu adalah PD, jadi saya mengusulkan untuk menambahkan sharing dengan 1 pertanyaan yaitu, "Apa makna natal secara personal bagi kita?"

Jujur...saya sedikit kecewa mendengar berbagai jawaban yang ada...
Banyak sekali yang berkata bahwa natal adalah saat dimana mereka melakukan refleksi apa yang telah mereka lakukan 1 tahun kebelakang...so apa bedanya dengan malam tahun baru kalau begitu? Kebetulan aja natal adanya di tanggal 25 Desember...gimana kalau natal adanya di bulan Juli? Apakah akan tetap melakukan refleksi?
Kekecewaan tersebut berlanjut ketika banyak sekali yang juga menceritakan tentang diri sendiri...tentang pekerjaannya, tentang saatnya melihat tagihan kartu kredit selama setahun...sekali lagi, mungkin sama seperti saya, fokus kepada DIRI...
Hanya 1 orang diantara belasan orang yang benar-benar menyebutkan mengenai Tuhan untuk makna natal...hanya 1 orang...

Khotbah pagi itu dalam kebaktian pemuda sedang membahas mengenai kerendahan hati...membahas kisah mengenai Yohanes Pembaptis..walaupun nggak nyambung dengan konteks Alkitab dan arti yang ingin disampaikan, tapi saya mengingat tentang kerendahan hati...
Ya...mungkin selama saya duduk di ruang kebaktian pemuda mendengar khotbah dan selama saya duduk dalam lingkaran persekutuan, dalam hati saya penuh dengan judgement...
Pulang dari sana, ketika menyetir mobil, saya kembali berpikir...
Harus saya akui, saya memiliki kecenderungan sombong...dan saya sangat bergumul akan hal tersebut..saya tau apa yang benar, saya diperlengkapi dengan sedemikian luar biasanya oleh Tuhan, belajar psikologi, belajar teologi...saya mengetahui banyak hal...dan ini yang membuat saya rentan sekali jatuh dalam dosa kesombongan..walaupun saya tidak menunjukkan hal tersebut, tapi dalam hati, saya melakukannya...

Rendah hati...ya...mungkin ini makna natal bagi saya tahun ini...
Dalam Injil Matius, sebelum kelahiran Yesus, Matius menceritakan mengenai orang majus dari Timus yang menuju Betlehem...sedangkan dalam Injil Lukas, Lukas menceritakan gembala-gembala...
2 kelompok yang berbeda...namun yang menarik bagi saya, yang hadir dalam kelahiran Yesus justru para gembala...para gembala yang sama sekali ga menantikan kelahiran Yesus...para gembala yang berada dalam level rendah dari status sosial...para gembala yang ga punya apa-apa...setelah mendengar kabar dari malaikat, mereka langsung pergi ke tempat Yesus...
Berbeda dengan orang majus yang memang SUDAH TAHU bahwa Yesus akan lahir dan mereka MENCARI Yesus...mereka mencari tanda...
Tapi kenapa Lukas mencatat para gembala tersebut?
Saya kembali diajak untuk melihat bahwa Yesus datang bukan dengan gemerlap, Yesus ga lahir di rumah sakit, Yesus lahir ga ditungguin bodyguard, Yesus lahir dengan sangat amat SEDERHANA...dan gembala? Yaa...Yesus datang buat orang-orang seperti para gembala...orang-orang yang tersingkir, orang-orang yang ga dianggep, orang-orang yang kesepian ditengah dunia ini, orang-orang yang terbuang...Yesus justru memberikan kabar gembira tersebut kepada orang-orang ini...lucunya, bukan kepada orang majus yang memang mencari Yesus...

Siapa saya ketika Yesus ajaa merendahkan diri sedemikian rupa, lahir dikandang, datang buat orang-orang hina, sedangkan saya bermegah dengan segala apa yang saya punya?
Kerendahan hati...ya..natal tahun ini mengingatkan saya akan kerendahan hati Yesus...
Natal bagi saya tahun ini adalah Yesus yang merendahkan diri sedemikian rupa, menjadi seorang bayi yang rentan diserang oleh apapun, menjadi seorang yang rapuh, dan dia datang dengan kesederhanaannya untuk orang-orang sederhana...

Kesederhanaan Yesus yang datang ke dunia inikah yang kita rayakan tiap tahun DENGAN MERIAH?
Kesederhanaan Yesus yang datang ke dunia inikah yang membuat kita hidup di dunia, memikirkan kepentingan diri kita sendiri dan menjadi sombong?
Untuk itukah Yesus lahir?

Mari kita merenungkan makna natal yang sesungguhnya dan mencari makna natal yang personal untuk diri kita masing-masing...

0 Responses