Do You Really Love God? (part 2)

Mari kita lanjutkan bagian yang ke-2 ini...kalo kata seseorang, "zizen 2"... *colek ci Grace* :)

Menyangkal diri...memikul salib...mengikut Aku..

Kalau kemaren kita udah bahas mengenai menyangkal diri, sekarang saya akan bahas tentang memikul salib...
Salib...apa yang terlintas dipikiran kita ya waktu mendengar kata "memikul salib"?
Mungkin seringkali kita berpikir bahwa memikul salib itu identik dengan penderitaan, beban berat, cobaan...
Banyak video-video juga yang menggambarkan seseorang yang dalam perjalanan hidupnya membawa suatu salib di punggungnya dan berjalan tertatih-tatih...ada yang memotong salibnya menjadi lebih pendek sehingga bebannya tidak terlalu berat...ada yang meletakkan salib tersebut dan berjalan tanpa salib...ada yang terus berjalan dengan salib walaupun berat..
Saya pun selama ini mengira memikul salib = menanggung penderitaan
Tapi ternyata dalam perjalanan rohani saya, saya mendapatkan definisi memikul salib itu lebih daripada sekedar menanggung penderitaan..

Saya merasa, ketika Tuhan meminta kita pertama-tama untuk menyangkal diri, berarti ada hal yang Tuhan ingin kita lakukan dalam rencana-Nya dan bukan rencana kita...Tuhan nggak membalik urutan tersebut jadi pikullah salib, ikut Aku dan sangkal diri...tapi Tuhan bilang : sangkal dirimu, pikul salib dan ikut Aku...hal ini berarti, ketika kita belum benar-benar menyangkal diri, kita akan sulit sekali memikul salib..hal ini berarti ketika kita masih mementingkan kehendak kita sendiri, kita akan sulit sekali memaknai salib itu...

Salib...di jaman Romawi dipakai sebagai alat untuk menjatuhi hukuman mati bagi penjahat...Salib menjadi salah satu cara untuk menghukum seseorang yang berbuat kejahatan sampai mati, dengan perlahan namun menyakitkan...
Salib...mengingatkan saya juga akan perkataan Yesus diatas kayu salib "Sudah selesai"...apanya yang sudah selesai? Seluruh apa yang Bapa inginkan...selesai menggenapi kehendak Bapa...mengikuti dengan taat apa yang menjadi kehendak Bapa...
Salib...disitulah penjelasan paling masuk akal dimana keadilan dan kasih Allah Bapa bertemu...Allah yang adil, Allah yang benci dosa sehingga dosa harus dihukum, tapi disisi lain Allah yang pengasih, menyerahkan Anak-Nya untuk berada diatas kayu salib menggantikan manusia, menggantikan saya dan menggantikan kamu disana...

Bertahun-tahun saya bertanya-tanya ke Tuhan, kenapa sih Tuhan harus lewat salib? Kenapa ga pake cara lain aja? Saya masih ga ngerti kenapa harus segitunya Yesus menderita...apalagi kalau nonton Passion of Christ...beehh...bener-bener ga tahan ngelihatnya..
Tapi perlahan Tuhan kasih jawaban ke saya...semester kemarin saya sedang ambil mata kuliah Kristologi...belajar mengenai Kristus...di tiap minggunya, kami dikasih bahan bacaan dan harus men-digest apa yang kami dapat dari bacaan tersebut dan apa aplikasinya...
Saya merenungkan tentang dosa...kenapa harus lewat salib? Upah dosa adalah maut (Roma 6:23)...maut...kematian kekal...Allah menghukum dosa yang kotor dan jijik itu...adakah cara yang lebih kejam dari penyaliban untuk mengekspresikan hukuman terhadap dosa? Mungkin kalau ada, Kristus akan mengambil jalan itu...
Sebegitu besarnya dosa manusia, sebegitu jahatnya dosa sehingga harus ditebus dengan cara yang luar biasa kejamnya dan menderitanya untuk menghapus dosa itu...
Dosen saya pernah berkata : Bagaimana kita memandang dosa, itu akan mempengaruhi bagaimana kita memandang keselamatan...kalau kita anggap dosa itu remeh, maka kita juga akan menggampangkan keselamatan yang udah Tuhan kasih...
Gimana kita selama ini memandang dosa? Kompromi? Tidak serius? Bermain-main dengannya?

Balik lagi ke masalah memikul salib...
Apa hubungannya salib Kristus dan salib kita? Apakah sama? Apa ya tujuannya Kristus menyuruh kita memikul salib? Kan Kristus sudah memikul salib dan sudah selesai, kenapa kita harus memikul salib juga? Atau pernahkan kita berpikir tentang memikul salib ini? Atau jangan-jangan, selama ini 3 kata itu : sangkal diri, pikul salib, ikut Aku, hanya menjadi asesoris yang kita ucapkan begitu saja dan ga pernah kita pikirkan...

Kalau saya tanya, apakah hidup kita saat ini sedang memikul salib?
Sepertinya di abad 21 ini, sedikit sekali ya yang bakal berkata bahwa hidupnya memikul salib...dengan berbagai kenikmatan dan kemudahan hidup, di jaman yang instan dan serba relatif ini, tampaknya ga ada orang yang mau hidup susah...
Saya pun gentar ketika bertanya ke diri sendiri tentang pertanyaan diatas... "Iya ya..hidup gw saat ini memikul salib ga ya?"
Mungkin akan ada yang berkata : "Lho, tapi hidup saya susah...saya lagi stress sama kerjaan, stress sama kuliah, banyak masalah...masalah dengan orangtua nggak selesai-selesai, masalah biaya ini itu belum tercukupi..lagi bergumul mau punya anak..kesehatan saya memburuk dan itu salib yang harus saya pikul, dsb"
Nah, disinilah masalahnya, apakah semua itu salib "penderitaan" akibat diri kita sendiri ATAU itu salib yang Tuhan mau?
Selama ini mungkin definisi salib = penderitaan, itu kita generalisasikan ke semua penderitaan yang kita alami akibat diri kita sendiri tanpa sadar, tapi kita bungkus dengan tampilan rohani... "Tuhan sedang mengijinkan ini terjadi dalam hidupku", "Ini memang adalah kehendak Tuhan, aku harus terus bergumul"
Apa iya itu salib yang dimaksud Tuhan? Kalau kita menggunakan definisi itu untuk mengartikan bahwa itu adalah memikul salib, maka orang non-Kristen pun banyak yang memikul salib..apa bedanya kita sama mereka...

Dalam Injil Lukas 14:27, Lukas dengan tegas mengatakan "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku"
Nah loh..jadi kalau nggak memikul salib yang dimaksud Tuhan dan mengikut Dia, itu sama dengan kita bukan murid Tuhan?
Lukas 9:23 membuat saya makin gentar, "Kata-Nya kepada mereka semua : "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya SETIAP HARI dan mengikut Aku"

Jeng jeng...ini syarat langsung dari Tuhan loh...ga ada dibawahnya *syarat dan ketentuan berlaku* kayak diberbagai promo2 menarik di dunia... :D
Ga ada Tuhan ngomong, "Yaudah, kamu boleh sesekali ga memikul salib, santai-santai aja dulu", Tuhan juga ga ngomong, "Kamu mau pikul salib, ga pikul salib, suka-suka kamu aja deh, asal kamu percaya sama Aku"
Ga ada yang begitu tuh...
Setiap hari booo...!! Setiap hari harus memikul salib...kalau nggak, beranikah kita meng-klaim kita ini adalah murid Tuhan? Saya serem sih ketika bertanya hal ini ke diri sendiri...nyatanya, saya pun tidak sungguh-sungguh ingin menjadi murid Tuhan...

Dalam perenungan saya, salib itu bukan suatu hal yang ditimpakan oleh Tuhan kepada kita, salib itu bukan penderitaan yang tiba-tiba Tuhan kasih...tapi salib itu adalah pilihan kita yang didasari oleh kerelaan, kerendahan hati untuk mengambil salib itu...kitalah yang membuat keputusan, kita mau pikul atau tidak?
Mau pikul? Sangkallah dirimu, lepaskan ego-mu, lepaskan duniamu, lepaskan apa yang menjadi keinginanmu, berpikirlah dengan cara pikir Allah, bergumullah apa yang ingin Tuhan kerjakan dalam hidupmu, dan bersiaplah menderita untuk Tuhan SETIAP HARI...
Tidak mau memikul salib? Itu juga adalah pilihan masing-masing kita..jalani setiap hari tanpa melibatkan Tuhan, berjalan di jalan sendiri, berpikir dengan cara pikir sendiri, tertarik dengan dunia, melihat dengan cara dunia melihat...bersenang-senang didalam dunia...
Dan kembali pertanyaannya adalah : "Beranikah kita meng-klaim diri kita murid Tuhan? Beranikah kita menyebut kita adalah milik Allah?"

Memikul salib = kehilangan apa yang menjadi kenikmatan kita didunia, kehilangan hidup kita di dunia...
Itulah mengapa Tuhan meminta kita pertama-tama untuk menyangkal diri...ketika ego kita masih besar akan hal-hal yang berpusat pada diri, maka kita tidak akan pernah bisa memikul salib...dan itu artinya, kita tidak akan pernah sungguh-sungguh mengikut Tuhan sebagai murid-Nya...
Salib itu menghancurkan si aku dalam diri...

Syarat yang luar biasa sulit ya? Ada di posisi manakah kita sekarang? Sudahkah kita memikul salib setiap hari? Siapa yang kita pikirkan setiap hari, aku atau Tuhan?

(To be continued..)

0 Responses