My God Written Love Story (Part 4 : A Constant Battle With Myself)

Have you ever felt lonely? I mean...really, really lonely?
Have you ever experienced that deep dark of utter alone-ness?

Eh, kenapa judulnya Love tapi bahasnya tentang kesepian yaa..suram amat kayaknya...hehehe... :)
Tapi saya sedang belajar akan hal ini...kurang lebih selama 1 bulan ini, Tuhan membuat saya merasakan hal tersebut...

Punya temen-temen banyak? Punya
Punya sahabat-sahabat yang selalu ada? Punya
Punya keluarga yang bisa jadi tempat menggila bareng? Punya
Punya pacar? Punya

So...kenapa masih merasa sepi? Saya sampai berkali-kali tiap malem ketika berdoa (bahkan sambil nulis ini aja), saya menangis...i'm in a constant battle with myself...saya nggak suka merasakan ini...uughh...this feeling is killing me...dan saya ga tau kenapa saya merasakan ini...sampai akhirnya  dalam masa-masa Malam Getsemani kemarin dan hari ini Jumat Agung, saya berpikir kembali, mungkin Yesus merasakan hal yang sama 2000 tahun yang lalu...ketika di malam Ia berdoa, murid-murid tertidur...sahabat-sahabat, orang-orang terdekat yang katanya menemani dalam kondisi apapun, tidur pulas dan ga paham perasaan Yesus...bahkan ketika di atas salib, Tuhan menjerit kepada Bapa dan Bapa juga hanya diam...betapa kesepiannya Yesus saat itu...di dalam kemanusiaanNya, Yesus pun punya perasaan...dan saya yakin Yesus merasa sendirian...sama seperti apa yang saya rasakan 1 bulan ini, atau mungkin bahkan Yesus merasakan gelap kesepian yang lebih parah daripada saya...

Saya tipe orang yang selalu bertanya ke Tuhan, apa yang lagi Tuhan mau ajarin ke saya dalam situasi gelap seperti ini? Saya selalu bertanya "Why God, why?"
Saya ini anaknya bandel...saya kebanyakan lari dan ga mau nurut...tapi berulang kali Tuhan juga yang mengejar dan menghajar saya...dan Tuhan yang sama juga yang selalu sabar sama saya...
Lewat obrolan dengan berbagai teman, lewat buku, lewat instastory teman yang lagi bahas tentang alone, lewat obrolan dengan kakak saya, bahkan lewat film, Tuhan pelan-pelan membuat saya mengerti...

Mengerti tentang cinta...
Mengerti tentang kesendirian...
Mengerti arti rela merasakan perasaan sendiri ini as a part of the journey..

2 minggu lalu, ketika sedang persekutuan pembimbing pemuda, seperti biasa diawali dengan sharing-sharing, saya bilang ke temen-temen pemuda yang lain, "i feel stuck in my spiritual journey...relasi dengan Tuhan ada, tapi kenapa rasanya kering..."
Minggu depannya, seperti biasa saya ngobrol dengan salah seorang teman, dan dia bertanya, "Anyway, sejak pacaran sama Edo, relasi lo sama Tuhan gimana Nda?"
Entah kenapa saya dapet pertanyaan itu...dan kembali lah saya menjelaskan apa yang saya jelaskan di persekutuan pembimbing...dan teman tersebut menjawab, "Tuhan yang hambar yaa...gw juga pernah mengalami itu...tapi ya, kalau memang Tuhan rasanya hambar, lo rela ga merasakan kehambaran itu (as a part of the journey)?"

Saya diam...
Kata kuncinya : Rela....
Daaann...saya ga rela...
Saya ga rela selama sebulan ini, sampai akhirnya saya berani menulis ini...it means saya udah ready buat bergerak maju...
Kemarin-kemarin, pikiran saya kayak ada 2 macam kubu...ada banyak hal yang berkecambuk dalam pikiran saya tentang hubungan saya dengan Edo...saya berharap ada yang menemani saya dalam merasakan kesendirian ini...tapi ga ada...
2 kubu dalam pikiran saya bunyinya gini, "Tuhan...mungkin Tuhan bikin Edo sibuk supaya saya bisa bener-bener berelasi dengan Tuhan, balikin fokus saya lagi...tapi yaa, gimana ceritanya sih Tuhan relasi bisa lancar kalau dua orang kayak jalan sendiri-sendiri, relasi macam apa yang akan kebentuk nantinya??"
Dan 2 kubu dalam pikiran saya itu ga bisa ketemu di titik tengah...sampai akhirnya saya nyerah, saya berdoa lagi ke Tuhan, "Oke Tuhan...saya akan cari yang utama, fokus sama Tuhan"...dan teman saya mengirimi saya lagu Don Moen yang judulnya "Deeper in love"...dan saya nangis (lagi)...*yaampuunn...cengeng banget sih lo Ndaa...hahaha >.<

Balik lagi...
Lo rela ga merasakan kehambaran itu....?
Nyatanya bahkan ketika saya bilang ke Tuhan seperti itu, perasaan sendiri itu masih kuat banget...dan tiba-tiba, Tuhan bekerja lagi....Tuhan tau, saya ini lemah...pikiran saya ini suka bergerak terus dan seakan masih mencari jawaban...entah...biasanya saya ga suka liatin instastory orang sampe segitunya, biasanya hanya orang-orang tertentu yang saya lihat, dan tiba-tiba saya penasaran buka instastory teman kuliah saya, yang which is jarang banget saya lihat, tapi kali itu saya lihat...dan saya tertegun baca yang tertulis disana...judulnya "Finding Solitude"


All human beings are alone. No other person will completely feel like we do, think like we do, act like we do. Each of us is unique, and our aloneness is the other side of our uniqueness. The question is whether we let our aloneness become loneliness or whether we allow it to lead us into solitude. Loneliness is painful; solitude is peaceful. Loneliness makes us cling to others in desperation; solitude allows us to respect others in their uniqueness and create community. Letting our aloneness grow into solitude and not into loneliness is a lifelong struggle. 


Dan tulisan itu disambung dengan instastory yang kedua...judulnya "Yearning for Perfect Love"



When we act out of loneliness, our actions easily becaome violent. The tragedy is that much violence comes from a demand for love. When loneliness drives our search for love, caressing easily leads to hitting, looking tenderly to looking suspiciously, listening to overhearing. The human heart yearns for love without conditions, limitations, or restrictions. But no human being is capable od offering such love, and each time we demand it we set ourselves on the road to violence.


2 instastory tersebut membuat saya sadar sesadar-sadarnya apa yang sedang terjadi dengan diri saya...saya kayak merasa ditampar sama Tuhan...seakan-akan Tuhan bilang, "Nih Nda...kamu minta penjelasan kan? Ini penjelasannya." 
Saya akhirnya mengerti, apa yang terjadi dalam bulan-bulan terakhir ini bentuk dari perasaan kesepian saya...saya membiarkan perasaan tersebut menguasai saya....semua pertanyaan saya ke Tuhan...bahkan apa yang saya lakukan ke Edo sampai menyakiti perasaan dia...saya ga sadar akan hal tersebut...bener-bener sedih pas aware dengan apa yang sudah terjadi.. T.T 
And yes...is a lifelong struggle for me to letting my aloneness grow into solitude...


Lo rela ga merasakan kehambaran itu....?
Kembali ke pertanyaan teman saya...seakan belum cukup Tuhan membukakan hal tersebut kepada saya, beberapa hari lalu saya akhirnya membuka satu video yang sebenarnya sudah cukup lama ada di Facebook...saya tau video itu sudah lama, tapi entah kenapa saya ga pernah tertarik untuk membuka video itu...sampai beberapa hari lalu akhirnya saya buka...judulnya "Genuine Love vs Attachment". Karena agak panjang, saya tidak akan memasukkan semuanya...


"The problem is always that we mistake the idea of Love for Attachment. You know, we imagine that the grasping and clinging that we have for in our relationship shows that we love. Whereas actually, it is just Attachment, which causes pain. You know, because the more we grasp, the more we are afraid to lose. Then, if we do lose, of course we are going to suffer. Well, Attachment says : I love you, therefore, i want you to make ME happy. 
And Genuine Love says : i love you, therefore, i want YOU to be happy. If that includes me, great! If it doesn't includes me, i just want your happiness"


Again...ini satu pembelajaran bagi saya...
Dan ketika 2 hari ini saya datang ke gereja menikmati ibadah Malam Getsemani dan Jumat Agung, ditengah segala perasaan saya yang campur aduk dan bergumul terus dengan Tuhan, saya sampai pada 1 pembelajaran yang sudah lebih dahulu juga Tuhan tunjukkan : "Unconditional Love"..kalau menggunakan bahasa video tersebut, genuine love...tapi saya lebih suka pakai kata unconditional love...karena kata tersebut mengingatkan saya akan cinta yang tidak berdasarkan kondisi tertentu, cinta yang menekan ego pribadi dan berkata "saya mencintai kamu, karena itu saya ingin kamu bahagia. Kalau itu melibatkan saya, bagus. Kalau tidak melibatkan saya, saya hanya ingin kamu bahagia". Cinta yang rela berkorban...cinta yang ga bersyarat...cinta yang melayani...dengan tidak mengharapkan orang yang kita cintai melakukan hal yang sama..

Susah? Susah...
Karena begitu kita sadar bahwa pasangan kita bukan Prince Charming atau Cinderella, dia hanya orang biasa, yang juga sama-sama memiliki pergumulan dan kelemahan, pilihan ada ditangan kita. Dengan cinta seperti apa kita akan mencintai mereka....


Lagu dibawah ini baru dinyanyikan tadi di gereja oleh seorang anak kecil...dan sukses membuat saya menangis (lagi) ketika membaca kata-katanya...judulnya "How Beautiful"...semoga ini juga bisa terus mengingatkan saya akan indahnya cinta Tuhan kepada saya dan belajar mencintai orang lain dengan cinta dari Tuhan...



How beautiful the hands that served
the wine and the bread
and the sons of the earth.
How beautiful the feet that walked
the long dusty roads
and the hills to the cross.

How beautiful
how beautiful
how beautiful is the body of Christ.

How beautiful the heart that bled
that took all my sin
and bore it instead.
How beautiful the tender eyes
that chose to forgive
and never despise.

How beautiful
how beautiful
how beautiful is the body of Christ.

And as He laid down His life
we offer this sacrifice
that we will live just as he died:
willing to pay the price
willing to pay the price.

How beautiful the radient Bride
who waits for her Groom
with His light in her eyes.
How beautiful when humble hearts give
the fruit of pure lives
so that others may live.

How beautiful
how beautiful
how beautiful is the body of Christ.

How beautiful the feet that bring
the sound of good news
and the love of the King.
How beautiful the hands that serve
the wine and the bread
and the sons of the earth.
How beautiful
how beautiful
how beautiful is the body of Christ

0 Responses