A Reflection in the midst of Holiday

Liburan kali ini berbeda dengan liburan-liburan sebelumnya...ini adalah satu-satunya liburan sepanjang tahun 2014.. *segitu parahnya yaa gw sampe ga bisa liburan* hahaha...

Biasanya ketika ingin pergi liburan, saya excited...tapi kali ini, 4 hari sebelum pergi liburan, ada masalah yang sangat mengganggu pikiran saya...saya tidak bisa tidur..paling hanya tidur 3-5 jam per hari..bener-bener pikiran ini penuh, perasaan ini tidak tenang...
Sehari sebelum saya berangkat liburan, saya berdoa ke Tuhan, "Tuhan...saya sangat butuh liburan..tapi saya nggak mau liburan ini berlalu sia-sia seperti liburan-liburan biasanya...tolong kasih saya kepekaan untuk tau apa yang ingin Tuhan nyatakan lewat apapun juga...tolong kasih saya kerendahan hari untuk belajar dari apapun juga..."
Dan Tuhan berbicara kepada saya...

1. You're never alone, My Child

Jujur, akhir-akhir ini saya merasa sendiri dan kesepian..bukan karena ga ada orang-orang disekeliling saya, namun kehidupan membuat saya dan orang-orang disekitar saya sibuk..dan semakin dewasa, saya merasa bukannya semakin kuat, namun saya merasa semakin fragile, semakin rapuh..
Ditengah permasalahan yang ada, sebelum saya berangkat, saya BBM orang terdekat saya...saya berkata bahwa saya sedang stress berat...saya berharap bahwa saya bisa bertemu dengannya dan menceritakan apa yang sedang terjadi, tapi karena jarak rumah yang terlalu jauh dan kondisinya yang tidak memungkinkan untuk pergi jauh, saya tidak bisa bertemu dengannya...sebenarnya saya sangat ingin bercerita..
Tapi Tuhan tau apa yang saya butuhkan...

Hari kedua liburan di Surabaya, saya bertemu dengan teman gereja lama...sebenarnya saya tidak berniat untuk menceritakan masalah saya...biasalah...ketika bertemu, hal standart yang ditanya pasti "Apa kabarmu?"...saat itu dengan cepat saya menjawab sedang stress...entah gimana saya langsung mengeluarkan uneg-uneg saya..saya langsung katarsis...bicara secara gamblang, menceritakan apa yang terjadi dan mengeluarkan semua apa yang saya rasakan...
Dan saya merasa didengarkan...tidak hanya itu, dari percakapan tersebut saya belajar 2 hal...
Dia mengingatkan saya untuk terus berdoa...yaa..selama ini saya pakai kekuatan saya sendiri..saya terus berjuang dengan pikiran manusia dan usaha manusia...saya lelah berdoa selama 5 tahun...dan saya give up...saya berhenti berdoa dan mulai berjalan dengan kekuatan sendiri...bahkan bisa dibilang saya skeptis...saya nggak lagi percaya bahwa semuanya bisa berubah...saya meragukan Tuhan... >.<
Hal kedua yang saya pelajari dari percakapan tersebut adalah ketika saya sudah tau semuanya, langkah kecil diperlukan...take action...dan biarkan Tuhan yang bantu...
Saya tau saya kesulitan dalam hal ini...saya selalu menggunakan rasionalisasi saya...dan saya diingatkan sekali lagi untuk bergantung sama Tuhan..

Tidak hanya itu, ditengah segala hal dan perasaan yang saya bawa dari Jakarta, seorang teman yang lain memberikan saya sebuah lagu "Your Heart Will Lead You Home"...kurang lebih liriknya mengatakan seperti ini :
If you feel lost and on your own
and far from home
You're never alone, you know
Just think of your friends 
The one who care
They all will be waiting there
With love to share

I'm so blessed that i have a friends like them... :) 
Dear Lord, thank you for Your Love...when i feel afraid, insignificant, and alone, help me turn to You and remember You are there...

2. Don't be arrogant, My Child

Sekali lagi, Tuhan menghajar saya...di blog sebelumnya yang saya tulis tentang natal, saya sudah menyebutkan bahwa saya memiliki kecenderungan untuk menjadi sombong...saya diperlengkapi Tuhan dengan sebegitu luar biasanya...belajar banyak hal...bisa banyak hal...sehingga terkadang saya sudah tidak melibatkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari saya..hal yang sama Tuhan ingatkan lagi...

Minggu itu, di GKI Manyar, saya tertegur lewat khotbah yang diberikan...sudah lama sekali saya tidak mendengarkan khotbah yang berani menegur jemaat dengan keras seperti itu...dan saya butuh itu...pendeta tersebut berkali-kali menyebutkan "Jangan sombong..!! Kita ini debu dan semuanya hanya akan kembali menjadi debu..."
Ditengah segala superioritas saya, merasa bisa dan mampu, Tuhan kembali mengingatkan saya hal ini...saya perlu belajar untuk rendah hati...dan Tuhan terus menghajar saya dan mengijinkan saya "hit the rock bottom" supaya saya belajar...sakit? sakit...ga enak? ga enak banget...tapi nggak ada anak yang nggak dihajar oleh Bapanya ketika berbuat kesalahan...

Kondisi saya yang sudah tidak berdaya, tidak tau harus berbuat apa, dan tidak tau lagi apa yang harus saya lakukan, disitulah titik balik saya kembali menemukan Tuhan...saya dibawa sampai ke dasar dan saya tidak tau bagaimana caranya naik lagi selain pegang tangan Tuhan...dan Tuhan mengajar saya melalui pengalaman dan kejadian yang tidak mengenakkan...

Ketika saya berjalan menuju pesawat untuk boarding, kembali ke Jakarta...saya melihat pesawat yang akan saya naiki...pesawat buatan manusia yang sangat besar..dan saya berkata dalam hati, "Tuhan, manusia ini hanya sekecil ini, dibandingkan pesawat yang begitu besar, apalagi dibandingkan alam semesta ini, apalah artinya manusia ini sehingga Tuhan mengindahkannya dan masih terus memberi kesempatan untuk hidup?"

Perjalanan kali itu terasa lama sekali...saya bolak balik melihat jam dan ketakutan...pesawat yang saya naiki menggalami goncangan yang tidak normal, berkali-kali masuk awan dan sangat terasa sekali...bisa tiba-tiba turun dan terhempas...saya merasa pesawat tersebut ngebut...sepanjang perjalanan saya berdoa terus..saya benar-benar ketakutan...apalagi saya naik pesawat 4 hari setelah mendengar kabar AirAsia hilang...dan benar, pesawat tersebut sampai lebih awal dari jadwal yang sudah ditetapkan...entahlah..tapi turun dari pesawat, saya lemas..God, i'm nothing without You...kembali, Tuhan menghajar saya...manusia ini terkadang cepat sekali menjadi sombong, tapi Tuhan bisa mengambil nyawa manusia dalam sekejap...saya kembali belajar apa yang dinamakan bergantung total dan sepenuhnya pada Tuhan...yang mungkin selama ini saya lupakan...

Do not boast about tomorrow, for you do not know what a day may bring forth (Proverb 27:1)

3. Learn this, My Child : Live by Faith, not by Sight

Untuk kedua kalinya saya mendengarkan khotbah di gereja namun di gereja yang berbeda pada hari Minggu itu...saya kembali ke gereja masa kecil saya...GKI Pregbund...
Khotbah kali ini mengambil perikop yang sama, namun saya kembali mendapatkan teguran dari Tuhan dalam hal yang berbeda...

Ya...kembali masalah iman...sudah lama saya mempertanyakan akan hal ini...sudah lama pula saya tidak lagi mengerti apa itu iman...Tuhan kenapa saya tidak bisa punya iman even sebesar biji sesawi? Terakhir kali saya ingat saya benar-benar berdoa dan menyerahkan semuanya pada Tuhan adalah ketika saya SMP...
Saya baru menyadari, semakin saya dewasa, saya terlalu banyak menggunakan logika dan rasio saya...sehingga iman tampak mustahil bagi saya...ya...saya salah dalam hal ini...
Saya selalu melihat apa yang terlihat dan begitu cepat putus asa ketika hasilnya tidak terlihat...
Dan tanpa sadar, hidup saya dibangun berdasarkan apa yang terlihat...achievement, karir, uang...dan saya melupakan apa yang tidak terlihat...iman, pengharapan, kasih...
Ya...saya mengesampingkan itu...

Khotbah itu ditutup dengan sebuah pertanyaan dari pendeta, "Jika sekarang Tuhan mengulurkan tangan-Nya, mau kah kita menerima tangan tersebut?"
Pertanyaan itu membuat saya gelisah dan berpikir...
Selama ini saya sadar bahwa jawaban saya adalah tidak mau...saya nggak munafik, saya nggak mau jadi orang yang sok suci juga...saya benar-benar bergumul akan hal ini...
Saya tau, saya adalah orang yang butuh kepastian...saya nggak suka dengan ketidakpastian...dan iman adalah sesuatu yang abstrak buat saya...mungkin saya berdoa dan berharap, tapi apakah saya benar-benar beriman?
Tampaknya saya terus menerus diajak Tuhan untuk belajar akan hal ini...untuk kembali percaya, untuk kembali mengijinkan Tuhan hadir, untuk kembali membiarkan Tuhan yang memegang hidup saya...

Kembali mengingat dan merenungkan perkataan dosen saya, "Kalau with God, nothing is impossible, you mau ijinkan Dia hadir nggak?"



"Dear God,
I am so afraid to open my clenched fists!
Who will i be when i have nothing left to hold on to?
Who will i be when i stand before You with empty hands?
Please help me to gradually open my hands
and to discover that i am not what i own,
but what You want to give me"
- Henri J.M. Nouwen, The Only Necessary Thing : Living a Prayerful Life


0 Responses