Tuhan, tolong beri aku kesulitan

Hal yang PALING mengerikan bagi saya selama ini adalah hidup dalam kondisi lempeng-lempeng aja dan berjalan tanpa adanya kesulitan. *Uda gila kali yaa lo nda? hehehe...nggak, saya nggak gila...tapi memang itu kenyataannya dan perasaan saya bener-bener ga enak selama menjalani masa itu..supeerrrr ga enaaakk... >.<

Saya pernah berdoa seperti ini, "Tuhan, jika memang kesulitan bisa terus membawa saya dekat sama Tuhan, tolong beri aku kesulitan". Saat itu, saya sedang dalam kondisi dimana masalah yang tadinya menjadi beban hidup, sekarang sudah mulai bisa teratasi, hidup saya lancar-lancar aja, everything's fine. Hubungan saya dengan Tuhan pun biasa aja, tapi tanpa saya sadari, hubungan itu menjadi hambar. Saya sudah tidak curhat sama Dia setiap hari. Apa yang saya alami justru saya ceritakan ke teman-teman saya, bukan Dia. Saya disibukkan dengan berbagai hal. Alhasil, lambat laun, hubungan saya sama Tuhan jadi kering. Bahkan saya bingung sendiri, sejak kapan jadi begini? Sejak kapan saya lari menjauh..? Mungkin awalnya melangkah kecil-kecil, tapi saya bener-bener ga sadar pas nengok ke belakang, ternyata sudah sejauh itu. Saya sudah lari jauuuuuhhhhh sekalii dan saya bingung baliknya. Berkali-kali saya coba, tapi yang ada malah saya bertanya-tanya, kenapa ga ada perasaan haus seperti dulu ketika saya ada masalah? Kenapa rasanya beda? Kenapa saya ga bisa sedekat itu lagi sama Tuhan?

Mungkin bisa dibilang, saya seperti bangsa Israel dalam Perjanjian Lama. Hidup dalam kesulitan yang cukup lamaa, menangis-nangis karena masalah yang ada dan terus meminta pertolongan Tuhan. Tetapi setelah Tuhan menolong, seketika itu juga mereka lupa, mereka merayakan kemenangan, menari-nari dan kembali menjalani kehidupan layaknya tidak ada Tuhan. Amnesia rohani. Lupa sama apa yang sudah dilakukan Tuhan. Lupa terhadap siapa dibalik kemenangan itu.
Dengan jujur saya mengakui itu adalah saya. Dosen saya pernah berkata, "The greatest enemy of faith may be forgetfulness". Musuh terbesar iman adalah lupa. Lupa akan apa yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidup kita. Saya sadar bahwa saat Tuhan mulai mengurangi beban-beban hidup saya, saya take for granted...Saya dengan yakin mempunyai pikiran, "Ah...tenang aja, Tuhan pasti beresin kok masalah-masalah saya selanjutnya". Yes, He did it...!! dan akhirnya itu menjadi habit saya selama beberapa bulan untuk berdoa menyerahkan sepenuhnya sama Tuhan. Lho..emang apa salahnya menyerahkan sepenuhnya sama Tuhan? Bukannya memang harusnya begitu?
Yap...memang harusnya begitu. Tapi saya tidak melakukan itu dengan HATI yang benar. Saya cuma berdoa secepat kilat bahkan tidak berdoa karena yakin Tuhan tau kok apa yang ada di pikiran saya.. *ckckck..yang ini jangan ditiru yaa... -.-"

Saat mulai menyadari saya menjauh dari Tuhan, saya pun berdoa seperti diatas tadi, "Tuhan, tolong beri aku kesulitan".
Apa yang menarik dari sebuah kesulitan? Mungkin terdengar aneh jika ada orang yang berdoa seperti itu di jaman sekarang. Pada umumnya, justru orang berdoa minta agar hidupnya lancar-lancar aja, ga ada kesulitan dan semuanya berjalan aman-aman aja. Kita bisa lihat fakta-faktanya dari sinetron-sinetron yang ada, dimana jika terjadi masalah, mereka akan berkata, "Ya Tuhan, mengapa ini terjadi pada saya?". Lagu-lagu sekuler pun juga memberikan kita gambaran yang sama. Orang berusaha menenangkan diri dari permasalahan dengan 2 cara : dari dalam diri sendiri (berusaha tegar, dsb) dan dari teman yang akan selalu ada..
Apakah cara itu salah?
Tidak...itu tidak salah. Menjadi salah apabila cara itu menjadi yang utama dalam menyelesaikan masalah kita.

Bagi saya, kesulitan adalah salah satu cara agar saya selalu dekat dengan Tuhan, selalu aware akan posisi saya dalam dunia ini, bertanya kepada Tuhan, mencurahkan isi hati kepada Tuhan. Melalui masalah-masalah yang ada, saya diajak untuk bertumbuh di dalam Tuhan, semakin hari dibentuk menjadi serupa gambaranNya. Saya menyadari saya makhluk yang lemah dan kecil ketika berhadapan dengan masalah. Hal itu membuat saya selalu bersandar penuh sama Tuhan dan tidak memakai kekuatan saya sendiri dalam menghadapi masalah. Saya tidak mampu dan saya bukan siapa-siapa, karena itu saya butuh Tuhan.
Namun di dalam kelancaran hidup, saya seringkali lupa kepada Tuhan. Lupa bahwa segala sesuatu yang terjadi dan ada pada saya adalah sebuah anugerah dan hanya karena belas kasihan Tuhan. Dan hal yang paling buruk saat hidup dalam kelancaran adalah saya menjauh dari Tuhan. Rasanya benar-benar tidak enak menjalani hidup tanpa Tuhan. Seperti makan tanpa garam. Hambar...That's why saya lebih memilih mendapat masalah dan bisa berjalan sama Tuhan daripada hidup tenang-tenang saja tanpa Tuhan..

Pada akhirnya, saya terus berdoa dan meminta kemurahan hati Tuhan. Saat itu, saya mengingat 1 lagu dari Avalon yang berjudul First Love. Lagu ini benar-benar menggambarkan keadaan saya saat itu, saat saya merasakan ada sesuatu yang salah dalam hidup saya ketika tidak berjalan dengan Tuhan. Saat saya kehilangan kerinduan terbesar dan cinta saya terhadap Tuhan. Here's the video n lyric...



0 Responses